?

Log in

Kaito apologize

...

Silent Evening


Tahun keempat.

Empat tahun, cepat ya waktu berlalu? Tak banyak yang berubah dari hidupnya. Cameo tetap seorang Cameo, dan ia tak pernah berharap lebih. Walau sebenarnya ia mendapatkan lebih dari yang ia harapkan di sekolah ini. Teman-teman yang baik dan lingkungan yang nyaman. Tak seperti di sekolah lamanya, mereka lebih awas pada keberadaan Cameo. Dan untuknya, itu sudah lebih dari cukup. Cameo tak pernah berharap lebih.

…Sungguh?

…Sungguh. Mungkin. Cameo selalu berharap benar ia tak berharap lebih. Karena ada satu sosok. Sosok yang selalu menyita perhatiannya, membuat matanya mengikuti tiap gerak geriknya. Membuat telinganya terpasang dengan baik untuk mendengar suara-suaranya. Tapi sosok itu tak pernah menyadari keberadaannya. Selalu sibuk dengan dunianya sendiri, dan bahkan mungkin tak sadar kalau di kelasnya ada seorang anak lelaki bernama Cameo Rhealloiy. Tapi… ya, Cameo berharap dirinya tak menginginkan lebih. Karena ini seharusnya yang terbaik untuknya. Untuk hidupnya.

Kakinya melangkah konstan menyusuri lorong-lorong kelas yang sepi. Sudah sore, dan mungkin sebentar lagi jam makan malam akan dimulai. Ia ketiduran di perpustakaan dan sekarang harus cepat kalau tak ingin tertinggal. Perutnya agak lapar, soalnya. Walau beberapa cupcake tersimpan dalam tasnya, tapi Cameo tidak sedang dalam mood untuk makan kue kecil. Ia lapar sungguhan. Tepat saat itu, saat langkahnya yang terburu bergema lirih di koridor, iris biru tanpa sengaja menangkap sosok yang sangat (terlalu, malah) familiar. Orang itu, benar. Di sebuah kelas kosong tanpa manusia lain, tampak sedang melakukan sesuatu.

Oh, benar, Cameo memang sudah menjelma menjadi stalker. Atau semi –stalker, karena dia tidak berniat menguntit atau semacamnya tadinya. Tadinya. Tapi saat momen ‘kebetulan’ semacam ini terjadi, bukankah hal yang wajar kalau kakinya lalu berhenti melangkah, dan kemudian mencoba mengintip ke dalam sana? Mengawasi orang itu sedang apa. Sendirian.

Wajah orang itu tampak serius, seperti biasanya saat ia sedang terfokus pada sesuatu. Setumpuk kartu yang disusun membentuk menara bertumpuk di meja depannya. Cameo berdiri di ambang pintu. Mengawasi. Ia yakin kalau pasti pemuda di sana tak sadar, seperti biasanya. Ia hantu, figuran, orang lewat. Iris cokelat tak pernah sudi barang melirik padanya. Benar kan? Pemuda di sana tetap fokus pada tumpukan kartu di depannya. Mengambil satu kartu lain yang belum ditumpuk, tampak sangat berhati-hati untuk meletakkannya di menara kartu miliknya. Dan ketika si menara bergoyang, pemuda itu panik, refleks berteriak pada si kartu untuk jangan jatuh. Dan dengan bodohnya, Cameo refleks mendekat.

“J-jangan disenggol supaya tidak jatuh!”

Lalu berkomentar dengan seenaknya.

Tapi, ah, seperti biasa kan? Pemuda itu tak sadar pada kehadirannya, suaranya. Si menara kartu berhenti bergoyang dan Cameo bisa melihat kelegaan di wajah berbingkai kacamata itu. Lalu, kembali serius dan mengambil kartu berikutnya untuk ditumpuk pada tingkat keempat. Kekecewaan yang terasa menguap dengan cepat. Pengalaman sudah membuatnya kebal, lucunya. Karena itu tak peduli pada kehadiran yang tak disadari, matanya ikut terfokus pada si menara. Empat tingkat, nyaris lima dengan sempurna.

“Ayo, sedikit lagi!”

Suaranya pelan. Ia tahu dia tak akan didengar. Ia tahu kehadirannya tak disadari. Dan karena itu juga ia bisa menjadi dirinya sendiri. Benar kan?

Karena itu, ia

suka

pada

pemuda

ini.

Karena ia tak perlu takut pada opini. Karena ia tak perlu takut untuk menahan diri. Pemuda ini, dengan tingkahnya yang polos dan sesuka hati, tak pernah membuat Cameo merasa khawatir. Benar, Cameo sadar kalau keberadaannya yang tipis bukan hanya karena kutukan namanya—seperti yang selama ini bisikkan pada dirinya sendiri. Itu karena ia selalu ketakutan. Takut berbuat salah, takut dibenci, takut dikucilkan, takut dibicarakan di belakang, takut membuat orang lain merasa tidak nyaman, takuttakuttakutTAKUT dan takut lainnya. Ia hidup dalam ketakutan akan pandangan orang lain. Karena itu dalam hati kecilnya yang lain, ia merasa tak disadari keberadaannya tak apa. Karena kau tak akan menyakiti seseorang yang memang tak ada, kan?

Tapi pemuda ini, bahkan tak pernah sadar dia ada. Tak pernah peduli apa yang ia lakukan.

Dulu Cameo kesal padanya. Merasa penasaran pada sikap luar biasa ignoran yang heran bisa dimiliki seorang manusia. Tapi lalu ia iri. Ia berandai-andai. Andai, andai saja, dirinya punya sedikit rasa ignoran pemuda ini, mungkin ia bisa hidup lebih normal. Tatapan mata orang lain bukan hal yang menakutkan. Senyum aneh di bibir orang lain bukan momok. Andai, andai, dan rasa iri itu berubah menjadi pengidolaan. Cameo mengidolakannya, dan rasa mengidolakan itu berubah menjadi suka.

Cameo sendiri takut saat mengetahui fakta itu.

Ia pernah menyukai seseorang, dulu. Seorang gadis berambut pirang yang begitu bercahaya bagai mentari. Bahkan ketika perasaan itu harus mati, ia merasa ‘ya sudahlah’. Patah hati itu biasa. Tapi saat menyadari dirinya bahkan memiliki perasaan yang sejenis pada seseorang bergender sama, Cameo ketakutan. Luar biasa ketakutan. Masa depan, pandangan masyarakat, orang sekitar, dan terutama—orangtuanya langsung terbayang di kepalanya. Berapa usianya saat dia menyadari soal perasaannya pada pemuda ini? Empat belas, benar. Cameo yang selalu takut pada pandangan orang lain menjadi berkali lipat lebih takut. Ia tak mau, ia benci dikucilkan.

Tapi, pemuda ini bahkan tak sadar kalau dia ada. Jadi seharusnya tak masalah kan?

Hubungan mereka komensalisme. Cameo tak akan mengganggunya, dan biarkan Cameo tetap menyimpan perasaannya. Perasaan yang mustahil berbalas. Dan itu yang ia harapkan. Cinta yang tak berbalas… itu terdengar menyedihkan. Tapi tak separah itu kalau kau berada di posisinya. Karena fakta kalau dirinya mungkin saja homoseksual bukan sesuatu yang menyenangkan untuk diketahui.

Suara sorakan membuatnya tersentak. Oh, rupanya si menara lima tingkat sudah tersusun baik. Si pemuda berkacamata berjingkrakan, tampak senang sekali. Ia meloncat-loncat, tangannya melambai ke mana-mana saking senangnya. Mau tak mau seutas senyuman tipis terutas di atas bibirnya.

Senyum itu. Benar, senyum yang begitu polos tanpa dosa. Karena itu Cameo suka.

Tanpa sengaja mata mereka bertemu, dan untuk sekilas, Cameo berharap itu bukan hanya perasaannya.

“Eh. Halo. Sore.”

Butuh keberanian luar biasa untuk mengucapkan itu.

Tapi ternyata tak ada gunanya, haha. Ternyata mata yang bertemu tadi hanya perasaannya saja. Pemuda di depannya tetap tak menyadari ia di sini, di sebelahnya, menontonnya menyusun kartu. Masih berlompatan dengan gembira. Dan—

Menara kartunya jatuh berguguran.

Cameo refleks berjengit rendah, menelan ludahnya.

Kalau pemuda ini sadar dia di sini saat si kartu berguguran, apa komentarnya? Ia bisa dituduh meruntuhkannya… bukan situasi terbaik untuk disadari keberadaan. Benar, tangan si pemuda yang meruntuhkannya, tapi ia terlalu tahu watak pemuda ini. Ia tak akan sadar. Kenyataan terlalu simpang siur baginya, dan otaknya hanya akan mencerna fakta-fakta menyerempet mimpi yang ia inginkan sendiri.

Cameo panik.

Ketika iris kecokelatan membulat kaget, menyadari kartunya berjatuhan, mau tak mau jantungnya bertebar. Khawatir. Kehadirannya disadari? Ia akan dituduh? Refleks, satu kakinya mundur ke belakang. Menanti apa yang terjadi.

“Kartu, kenapa kau mendadak jatuh? Apakah tadi teriakan perpisahanmu?”

Wajahnya nampak sedikit bingung, dan matanya tetap fokus ke arah si kartu. Masih tak menyadari dia di sini, di sampingnya, begitulah. Di satu sisi Cameo lega, tapi di satu sisi… terasa begitu miris. Segitu kaburkah keberadaannya? Ia di sini. Tepat di sampingnya. Tak terlihatkah?

“Aku jatuh soalnya kamu jingkrak-jingkrak tadi, Wilhelm Austerlitz.”

Seperti biasa.


“Kartunya bicara!” wajahnya tampak kaget, dan matanya yang berbingkai nampak makin fokus pada tumpukan kartu di depannya.”K-kamu kartu sihir? Padahal aku beli kau di dekat rumah. W-wah. Kau jatuh karena ikut senang?”

Senyuman hampa mau tak mau terukir di atas bibir Cameo. Benar, seperti biasa, begini. Pemuda ini akan percaya kalau tembok, lukisan, tangga, atau tikus bisa berbicara. Tapi butuh waktu lebih untuk menyadari kalau dia, manusia, ada di sini, di dekatnya. Mendubbing benda sekitar bukan barang baru lagi bagi Cameo. Tidak sejak ia kenal pemuda ini.

“Iya, aku kartu sihir yang tersasar di toko biasa. Dan iya, karena kamu senang, aku ikut senang dan jadi terjatuh.”

Suaranya tak berubah, tetap sama.

“O-oh begitu ya kartu. Tapi baguslah kartu, kau berhasil menunaikan tugasmu sebagai kartu. “
Senyuman lagi, terukir di atas bibir pemuda itu. Tangannya nampak terulur, bersiap membereskan si kartu—

"Aaah, jangan dibereskan dulu! Jangan!”

Apa yang kau lakukan, Cameo?

“K-kenapa kartu? “

Karena kalau kau membereskannya, keluar dari sini, maka pertemuan ini berakhir di sini.

Mustahil Cameo mengatakan itu.

“Aku senang kau susun-susun tadi. Jadi susun aku sekali lagi, bisa?”

“Eh? Tapi aku lelah, kartu. Aku mau istirahat dulu dong. Ya, ya?”

“Baiklah, istirahat dulu saja. Duduklah di kursi depanku.”

Aneh, pembicaraan antara manusia dan kartu ini terlalu aneh. Tapi biasa bagi seorang Cameo dan Wilhelm. Kadang ia akan menjadi kursi, meja, tembok, atau ilalang di pinggir danau. Apapun yang menurut imajinasi si pemuda sedang berbicara. Bukan, bukan seorang manusia bernama Cameo Rhealloiy.

Cameo merogoh tas yang ditentengnya sedari tadi, mengeluarkan sebotol air mineral yang selalu tersedia daalam tasnya. Meletakkanya di depan meja.

“Itu, ada minuman. Minumlah.”

Dan seperti biasa pula, pemuda ini dengan mudahnya tersenyum riang. Merasa si botol minuman muncul sendiri, bukan dibawakan seorang figuran.

“W-wah! Kamu ajaib ya, bisa mengeluarkan minum! Kau keren, kartu!”

Botol minuman diambil, diteguk. Sedikit semu kemerahan muncul di pipi si pemuda beriris biru. Botol itu botol minumnya, dan sekarang menempel pada bibir Wilhelm—

--Pikiran itu segera ditepis. Apa? Dia ini bukan gadis remaja berusia lima belas tahun yang baru mencecap asmara. Tak boleh terdistraksi hal kecil macam itu, hei.

Karena si pemuda duduk, Cameo ikut mengambil kursi, duduk tepat di sebelahnya. Satu tangan menopang dagu. “Terima kasih. Minum saja yang banyak. Tidak apa-apa.” Dekat, wajah mereka, jarak di antara mereka. Segini dekat. Hanya dengan mengulurkan tangan sedikit, Cameo bisa menyentuhnya. Seharusnya.

“Selain mengeluarkan botol minum, kau bisa apa, kartu?”

Cameo diam, masih dengan posisi bertopang dagu, berpikir.

“Akan kutunjukkan kalau kau susun aku lagi.”

Dan setidaknya, ia bisa berada di sini sedikit lebih lama.

“Oke, oke kartu. Tunggu saja, aku akan segera menyusunmu.”

Cengiran terpeta di atas bibirnya. Cameo tersenyum sebagai respon alamiahnya, sedikit geli pada situasi yang sebegini konyol. Tapi ah, ini tak konyol. Baginya ini tidak konyol. Ini, ini.

Berharga.

Detik berikutnya terasa berhenti. Iris cokelat kembali terfokus pada menara kartu, alisnya nampak berkerut. Kalau ada orang yang lihat, mereka mungkin berpikir dua orang ini sedang menyusun kartu bersama-sama. Tapi tidak, bukan. Si rambut cokelat tak sadar si rambut biru di sini, dan akan terus seperti itu. Ia ini hantu, figuran. Di mata anak ini, begitu. Seseorang yang kehadirannya tak pernah ada.

Cameo menatap kosong . Sorot matanya meredup.

“Hei,”

Suaranya lirih,

“Aku. Tak terlihat?”

Mata itu tetap sama, terfokus pada susunan menara kartu. Tak melirik, tak ada perubahan pada binar iris cokelat. Ia tak terdengar. Tak terlihat. Kehadirannya masih tak disadari.

Cameo menggigit ujung bibirnya.

“Tidak?”

Senyum terkembang. Miris.

“Ahaha.”

Tawa itu terdengar kering, kering sekali. Nyaris menyakitkan. Cameo menelan ludahnya dan terdiam, meninggalkan jeda yang panjang.

“Wilhelm Austerlitz.”

Akankah terdengar?

“Aku.”

Suaranya. Ia ada di sini. Apa kali ini akan terdengar?

“Suk—“

Dan ia berhenti sampai di sana.

Kedua tangannya, tangan si rambut biru, saling menggenggam, terkatup di depan wajah. Menopang dahi. Ia diam. Mata terpejam erat, gigi digertakkan.

Lelah.

Wajahnya kembali terangkat dan mata terbuka. Menatap sosok yang masih serius menyusun kartu, dan senyuman kembali pada bibirnya.

“It’s okay.”

Benar, tak apa.


“Ini… yang kuinginkan.”

Sungguh?

“Benar.”

Benar?

“…”

Bohong.

Cameo tak suka. Ia benci ini . Ia ingin berteriak, ia ingin meraih pemuda ini dalam rengkuhannya, menghujaninya dengan ciuman dan pelukan. Ia ingin menyentuhnya. Ingin mengatakan kalau, hei, ia ada di sini. Di sebelahmu. Selalu memperhatikanmu. Selalu menyukaimu.

Selalu.

Angin samar nampak melewati mereka, sedikit membuat menara kartunya bergoyang dan si pemuda panik. Cameo terhenyak. Iris birunya menatap kosong pada menara kartu di depannya. Seolah menyadarkannya dari pikiran sepintas barusan. Apa tadi? Dia memikirkan apa? Tidak. Tak boleh. Tak boleh ada yang tahu, siapapun, termasuk pemuda ini. Ia harus tetap menjadi Cameo, pemuda biasa yang tak pernah membuat masalah berarti dalam kehidupan seseorang. Ia tak boleh ketahuan menyukai seseorang yang segender dengannya. Orangtuanya; ia tak bisa membayangkan apa reaksi mereka kalau tahu. Bahkan walaupun mereka orang tua yang luar biasa baik, Cameo yakin tak ada orang tua yang bangga kalau anaknya menjadi homoseksual. Mereka pasti ingin anak lelaki yang normal. Yang menikah dengan seorang perempuan, memberi mereka cucu yang bisa mereka timang di akhir ayat mereka.

Bukan seorang pemuda homoseksual, bukan.

Si pemuda kembali serius menyusun kartunya, dan Cameo merasa ia baru saja memikirkan hal paling bodoh dalam hidupnya. Berhenti sampai di sana, Cameo Rhealloiy. Kau tak boleh melewati batas. Kau sendiri yang ingin ini kan? Menyukainya, mengidolakannya, dan terus bertepuk sebelah tangan karena itu yang terbaik. Uluran tangannya tak boleh bersambut, tak boleh.

Cameo menarik nafas panjang.

“Ayo! Sebentar lagi! Kamu bisa!”

Menara kartu yang tinggi sudah dibentuk. Ah, benar. Cameo berjanji untuk memberikan sesuatu kalau pemuda ini berhasil kan? Tas di pangkuan diraih, diacak-acak lagi isinya dan sebuah cupcake cokelat diletakkan di atas meja. Menunggu sampai susunan kartu yang ini selesai diurus.

Satu tingkat lagi. Satu tingkat lagi dan si menara kartu usai. Begitu juga dengan pertemuan singkat antara Wilhelm dan roh kartu, benar?

“Selesai, kartu!”

Menaranya agak bergoyang di bagian akhir, tapi tingkat terakhir bisa disusun dengan apik. Cameo bisa melihat senyuman puas kekanakan khas si pemuda di bibirnya. Tertawa kecil.

“Selamat, ya! Kau hebat. Lihat di atas meja? Itu hadiah untukmu.”

“Ehehe. Iya dong.”

Si pemuda menepuk dadanya bangga. Menyadari kehadiran kue di sana, dan segera meraihnya dengan penuh semangat. Sudah berakhir, ya? Ia tak boleh berlama-lama di sini. Sudah berakhir. Menaranya sudah tersusun dengan rapi dan tak ada gunanya lagi ia di sini.

Ia lelah. Ternyata, mempertahankan perasaan ini dalam situasi begitu tak semudah yang ia pikir.

“Selamat, ya. Kau sudah berusaha.”

Tatapan matanya kosong ke arah tumpukan kartu.

“..Aku lelah. Sudah lelah. Terima kasih untuk waktunya, Wilhelm. Terima kasih. Sekarang, aku mau tidur, ya.”

Tak tahan lagi. Nyeri, nyeri sekali. Di sini, benar, di dalam sini. Ia perlu menggigit bibirnya sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya, agar suaranya tak menjadi parau dan terdengar aneh.

“Kau boleh rapikan aku. Terima kasih.”

Sudah berakhir. Mungkin ini waktunya ia akhiri semua ini?

Tak ada artinya, hubungan ini.

Ia bangkit dari duduknya, melirik sekilas pada si pemuda yang nampak menyantap cupcake dengan riang. Meraih botol minum, menjejalkannya cepat-cepat dalam tasnya.

Kesal. Ternyata, ia akui kalau ia tak bisa tidak merasa kesal dengan semua ini. Kesal dengan kebodohannya sendiri, kekonyolannya sendiri.

BRAK!!!

Sebuah meja terdekat ditendangnya. Menabrak meja lain, dan jatuh berguling.

Cameo menarik nafas,

Menggertakkan giginya.

Dia muak.

(END?)

Comments